Judul Cerpen : Feel Your
Feeling
By : Yama Yam
"Stop! I can't hear it again".
Suara serak
disembari isakan tangis itu menghentikan ucapanku dan aku segera melepaskan
tangannya yang ku tarik.
Kami memang
seperti di film film.
Anjir. Aku putus
dengan dia. Ya, sekarang aku jomblo. Jones tepatnya. Tak ada lagi suara sok
keinggrisan itu. Cewek mungil jelita itu dengan suara yang khasnya. Sungguh,
kenapa harus setragis ini. Padahal, aku dan Eska tidak ada hubungan apa apa.
Beneran.
"Sudahlah
Ra, aku percaya Tuhan akan memberikan seseorang yang lebih mencintaimu daripada
dia,", kata Eska sambil tersenyum menatapku.
Aku tersenyum
kepadanya,"makasih ya Ka".
Di suatu kedai
caffe itu, Eska memberi semangat kepadaku untuk mencoba melupakan Indah,
mantanku.
Oke. Aku akan
melupakan masa lalu dan memberi kesempatan untuk membuka hati pada orang lain.
Sekali lagi, aku menatap senyum tulus Eska.
Kami pun
mengakhiri malam ini.
Malam yang
sungguh mengenaskan. Aku jomblo.
Yeaa, pagi
datang. Aku segera berangkat sekolah. Sedikit senyum, aku tebarkan untuk pagi
kebangkitan dari kepedihan itu. Jujur, aku masih menyayangi Indah.
"Wira...!!!". Panggilan seseorang. Aku pun segera mencari
sumber panggilan itu.
"Eska? Tumben
lo datang jam segini", kataku. Eska hanya tersenyum.
Tak seperti
biasanya. Eska sedikit canggung, gak se-care biasanya.
"Lo kenapa
sih ? Ada yang salah ya dari gue?", tanya langsung.
"Hah?
Maksudnya? ewm gue duluan ya Ra..!",
kata Eska seperti terburu-buru.
Aneh.
Aku tetap
berjalan menuju kelas. Berita putus mengenai aku dan Indah mungkin sudah
tersebar. Entah, aku gak mau urus lagi mengenai itu. Hatiku sudah sakit atas
itu semua. Aku harus bisa melupakan Indah.
Tiba-tiba. Handphone-ku ada sms dari nomor
tak dikenal.
From : 089828xxxx
Wira?
Lalu aku balas,
dan ku tanyakan siapa dia.
From : 089828xxxx
Viella anak
smasa kelas XI 9, salam kenal ya. :)
Viella? Siapa?
Akhir akhir
ini. Viella sms aku terus. Aku balas saja, hitung hitung untuk mengisi
kejenuhan dalam melupakan Indah. Aku gak kenal siapa dia dan entah dia tau
nomorku dari siapa. Yang jelas, dia beda sekolah. Aku di SMADA.
"Eska, lo
kenal Viella?", tanyaku pada Eska yang sedang duduk manis di depanku.
Eska
mengerutkan wajahnya dan menggeleng.
"Wira, lo
tunggu sini dulu ya, gue mau beli in ice tea.. Itung itung traktir karena lo
dah mau nemenin cari nih novel", kata Eska sambil tersenyum.
"Cie
neraktir... Sekalian makanannya doong...", candaku sambil tertawa.
Viella sms aku
lagi.
From : Viella
Selamat siang
Wira:)
Aku mulai
penasaran. Oleh karena itu, aku mengajaknya ketemuan.
To : Viella
Beneran deh, gw masih penasaran lo tuh
siapa :D
From : Viella
Ketemuan aja.
Gila, hampir aja
ngajak ketemuan. Haha. Aku pun mengiyakan. Rencanya malam minggu depan.
Hubunganku dengan
Indah semakin menipis. Bahkan, ketika bertemu pun Indah tak mau melihat. Jujur,
sebenernya aku masih sayang.
Oke fine. Langkah
Move on pun dimulai. Ya, malam minggu itu.
Di sebuah kedai. Aku pun bertemu dengan cewek yang bernama Viella.
Cantik dengan
gigi berbehel.
"Viella?", kataku dengan sedikit terpesona.
Cewek secantik
dia bagaimana bisa mendapat nomorku dan mengejarku. Haha, mungkin istilah
mengejarku itu sedikit kepedean. Tapi itu yang kurasakan. Haha.
Cewek itu
tersenyum manis. Aku pun duduk dan mengobrol. Ternyata dia adalah temannya
teman smp-ku, Arda. Hmm, okelah.
Aku mulai ada interest sama dia. Lagian, aku juga ingin move
on dari perasaan sakit yang berbekas ini.
Tak terasa.
Malam itu terasa cepat. Kita pun pulang dan berpisah.
Ya ampun, aku
lupa mau baca sms Eska.
From : Eska
Ra, Indah sms aku,
katanya mau minta nomormu, gimana? Dikasih?
Anjir!. Ngapain
lagi sih Indah?? Belum puas bikin sakit hati ha?!
Aku langsung
telepon Eska dan menyuruhnya untuk tidak memberikan nomorku. Namun, ternyata
sudah terlambat. Indah sudah mendapat informasi mengenai nomorku yang baru yang
baru aku ganti 2 hari yang lalu.
Nomor asing tadi
yang sms adalah Indah.
From : 0856xxX
Wira, maafin aku
ya. :(
Anjir.
Aku tak membalas
smsnya. Karena aku sudah tau dan dapat dipastikan bahwa sms itu pasti Indah.
Hasshh.... Kenapa
dia harus muncul lagi setelah aku bekerja keras untuk melupakannya. Ingin
rasanya memafkannya tapi ada rasa hashh..... Kenapa dia memutuskan dengan
semudah itu???. Anjir. Malam ini aku galau kembali.
Tanpa basa basi.
Aku langsung menelfon Indah.
Ya, suara indah
terisak isak. Menangis. Dia bilang, dia juga sakit akan itu semua. Sekali lagi,
dia minta untuk balikan.
Aku terdiam
sejenak. Aku akan memberi jawabannya
besok. Kampret memang. Hatiku juga galau. Akhirnya malam itu juga, aku menelfon
Eska dan aku mencurahkan semuanya serta meminta keputusannya untuk menerima
atau tidak balikan itu.
Eska adalah
sahabat terbaik yang kupunya.
"Itu kan
perasaan kamu Ra, saranku jika kamu memang masih sayang sama dia mending kamu
balikan aja.....", suara Eska dari telepon terlihat seperti menghentikan
suaranya seperti menahan suara.
Aku terdiam dan
memikirkan kata kata Eska.
"Namun...", suara Eska kembali muncul.
"Jika ada
orang lain yang lebih bisa buat kamu nyaman mengapa kamu gak beri kesempatan
membuka hati pada orang itu, mungkin ...", suara Eska seperti tertahan.
"Kamu bisa
mencari pengganti Indah yang bisa membuatmu lebih nyaman, coba peka kan
perasaanmu dulu Ra...itu saranku..", suara Eska sedikit terbata.
Sungguh, Eska adalah tempat yang paling
tepat. Aku mencoba untuk menuruti perkataan Eska.
Aku harus
merasakan perasaanku sekarang yang sebenarnya. Apakah Viella? Sebagai pengganti
Indah?. Aku sudah mulai merasakan Interest dengannya. Tapi disisi lain,
sejujurnya aku masih belum bisa melupakan Indah sepenuhnya.
Malam ini aku tak
bisa tidur. Ya, masa lalu haruslah berlalu dan tak diungkit kembali. Aku
memilih Viella. Aku harus bisa melupakan Indah.
Siang itu juga,
aku bertemu indah dan mengatakan sejujur jujurnya perasaanku padanya bahwa aku
akan berusaha melupakanmu. Aku sudah tak cinta lagi. Hubungan ini memang sudah
saatnya berhenti.
Indah menangis
dihadapanku. Aku tak tega. Aku mengusap air matanya untuk yang terakhir
kalinya.
Masa depan. Viella
menjemputku. Aku akan PDKT dengannya.
Siang itu, setelah
bicara khusus memperjelas hubunganku dan Indah di parkiran belakang. Aku
menraktir Eska. Dia adalah peri cintaku.
"Yeaa!!!
Makasih ya Wira... Sering sering dongg nraktir kaya gini yaa..!!", suara
ceria Eska dengan bola matanya yang lebar menatap mataku. Aku tersenyum dan
mengacak acak rambutnya.
"Oke deh...
Kamu tau gak sih ka... Lo itu penyelamat gimana ya... Lo tuh tempat segala
macam nasih hidup gue ngerti gak sih? Hahaha gue mau ucapin makasih
ya...", kataku sambil tersenyum.
Eska tersenyum.
"Wira....", panggil Eska secara tiba tiba seperti ada hal
serius.
"Iya?
Apa?", kataku.
Tiba-tiba,
Eska menangis dihadapanku. Aku pun terkejut dan bingung, Eska kenapa ?.
"Lo kenapa
Ka???!!!", kata gue sambil melotot khawatir.
Eska masih
menangis dengan muka terlipat sedih. Anjir, gue khawatir setengah mampus. Gue
gak tau dia berlaga aneh secara tiba tiba.
"Gue ....
Gue ....maaf Ra... ", kata yang muncul dari mulut Eska semakin membuatku
penasaran.
"Lo ada apa
ka?? Lo jangan buat gue khawatir gini dongg!!", kataku.
"Maaf,
gue gak cerita hal ini sebelum sebelumnya, gue besok akan operasi Ra...",
kata Eska sambil masih menangis.
Mata gue melotot sumpah.
"Hah?!
Operasi apa?! Lo sakit apa KA?!!! Kok lo gak cerita ke gue sih KA!!!
Anjir..!", kata gue.
Eska semakin
menangis.
"Gue
mengidap tumor otak Ra..", kata Eska yang masih menagis.
Ya ampun. Nafasku
seakan berhenti. Tumor otak? Airmataku mulai keluar. Eska, bisa bisanya lo
menyembunyikan ini semua.
"Gue gak
ingin buat lo terbebani Ra setelah tau penyakit gue.. Doain aja besok gue tetap
bisa ada...", kata Eska.
Aku hanya bisa
menatap Eska dengan tatapan kosong.
Mangkanya, tak
jarang aku menemui Eska mimisan dari hidungnya.
Aku mengusap air
matanya.
"Eska...bisa
bisanya lo gak cerita, bisa bisanya lo nglupain temapt curhat ke gue... Tapi
sudahlah... Gue gak marah, lo berhenti menangis ya ka....gue akan slalu ada
buat lo", kata gue.
Gue gak tau gimana
arti dari perkataan Eska kepadaku.
"Aku cinta
kamu Ra, seenggaknya aku ingin permintaan terakhir ini sampai setelah operasi
saja kamu maukan jadi pacarku?", kata Eska tajam.
Aku hanya bisa
menganga. Aku gak ngerti. Hatiku seperti tertusuk. Aku sudah menganggap Eska
lebih dari sahabat bahkan saudara. Namun, demi kebahagiaan Eska. Aku tersenyum
dan mengangguk.
"Gue sayang
sama lo ka, lo harus sembuh ya ka...", kataku.
Pertemuan siang
itu selesai. Aku mengantarkan Eska pulang. Eska memang meminta pada orang
tuanya untuk menyamakan haknya sebagai anak sehat biasanya.
Pulang.
Aku masih gak
paham atas ini semua. Eska selama ini mencintaiku. Eska yang slalu buat ada
untukku. Eska, aku selalu nyaman di dekatnya. Eska... Kenapa kamu bikin aku
sebingung ini. Eska, maaf aku gak tau akan perasaanmu slama ini. Kamu sungguh
perhatian padaku.
Sekarang. Aku
adalah pacarnya Eska. Aku segera menggapai hand-phone ku dan menelfon Eska.
"Halo?",
suara Eska.
Aku terdiam
sejenak.
"Lagi apa
cantik?", kataku dengan suara lembut.
Ya, aku akan
memainkan peran sebagai pacar Eska untuk membuatnya bahagia. Sungguh tak bisa
di sangkal. Aku sudah menganggapnya sebagai lebih dari sahabat. Semua ini ku
lakukan demi kamu Eska. Semoga sembuh.
Eska terdengar
sangat bahagia.
Ya, aku teringat
Viella dan Indah. Sungguh, ini sangat rumit. Aku yakin, Indah pasti sedang
menangisiku. Serta, aku tak bisa melanjutkan perasaanku pada Viella. Aku harus
menghentikan perasaan itu. Aku akan mencoba untuk mencintai Eska setulusnya
sebagai pacar bukan sahabat. Jujur, perasaan itu sungguh berlawanan. I love
you, my best friend.
END
.jpg)
0 komentar:
Post a Comment