Loading...
Saturday, 21 June 2014

Feel Your Feeling (CERPEN- FICTION SHORT STORY)

Judul Cerpen :   Feel Your Feeling
By                     : Yama Yam

                                                  Feel Your Feeling



"Stop! I can't hear it again".
     Suara serak disembari isakan tangis itu menghentikan ucapanku dan aku segera melepaskan tangannya yang ku tarik.
     Kami memang seperti di film film.
     Anjir. Aku putus dengan dia. Ya, sekarang aku jomblo. Jones tepatnya. Tak ada lagi suara sok keinggrisan itu. Cewek mungil jelita itu dengan suara yang khasnya. Sungguh, kenapa harus setragis ini. Padahal, aku dan Eska tidak ada hubungan apa apa. Beneran.
     "Sudahlah Ra, aku percaya Tuhan akan memberikan seseorang yang lebih mencintaimu daripada dia,", kata Eska sambil tersenyum menatapku.
     Aku tersenyum kepadanya,"makasih ya Ka".
     Di suatu kedai caffe itu, Eska memberi semangat kepadaku untuk mencoba melupakan Indah, mantanku.
    Oke. Aku akan melupakan masa lalu dan memberi kesempatan untuk membuka hati pada orang lain. Sekali lagi, aku menatap senyum tulus Eska.
     Kami pun mengakhiri malam ini.
     Malam yang sungguh mengenaskan. Aku jomblo.
     Yeaa, pagi datang. Aku segera berangkat sekolah. Sedikit senyum, aku tebarkan untuk pagi kebangkitan dari kepedihan itu. Jujur, aku masih menyayangi Indah.
     "Wira...!!!". Panggilan seseorang. Aku pun segera mencari sumber panggilan itu.
    "Eska? Tumben lo datang jam segini", kataku. Eska hanya tersenyum.
     Tak seperti biasanya. Eska sedikit canggung, gak se-care biasanya.
    "Lo kenapa sih ? Ada yang salah ya dari gue?", tanya langsung.
    "Hah? Maksudnya?  ewm gue duluan ya Ra..!", kata Eska seperti terburu-buru.
     Aneh.
     Aku tetap berjalan menuju kelas. Berita putus mengenai aku dan Indah mungkin sudah tersebar. Entah, aku gak mau urus lagi mengenai itu. Hatiku sudah sakit atas itu semua. Aku harus bisa melupakan Indah.
      Tiba-tiba. Handphone-ku ada sms dari nomor tak dikenal.
    From : 089828xxxx
        Wira?
       Lalu aku balas, dan ku tanyakan siapa dia.
   From : 089828xxxx
       Viella anak smasa kelas XI 9, salam kenal ya. :)
     Viella? Siapa?
        Akhir akhir ini. Viella sms aku terus. Aku balas saja, hitung hitung untuk mengisi kejenuhan dalam melupakan Indah. Aku gak kenal siapa dia dan entah dia tau nomorku dari siapa. Yang jelas, dia beda sekolah. Aku di SMADA.
        "Eska, lo kenal Viella?", tanyaku pada Eska yang sedang duduk manis di depanku.
        Eska mengerutkan wajahnya dan menggeleng.
        "Wira, lo tunggu sini dulu ya, gue mau beli in ice tea.. Itung itung traktir karena lo dah mau nemenin cari nih novel", kata Eska sambil tersenyum.
        "Cie neraktir... Sekalian makanannya doong...", candaku sambil tertawa.
        Viella sms aku lagi.
       From : Viella
      Selamat siang Wira:)
         Aku mulai penasaran. Oleh karena itu, aku mengajaknya ketemuan.
        To : Viella
         Beneran deh, gw masih penasaran lo tuh siapa :D
      From : Viella
         Ketemuan aja.
     Gila, hampir aja ngajak ketemuan. Haha. Aku pun mengiyakan. Rencanya malam minggu depan.
     Hubunganku dengan Indah semakin menipis. Bahkan, ketika bertemu pun Indah tak mau melihat. Jujur, sebenernya aku masih sayang.
     Oke fine. Langkah Move on pun dimulai. Ya, malam minggu itu.  Di sebuah kedai. Aku pun bertemu dengan cewek yang bernama Viella.
     Cantik dengan gigi berbehel.
     "Viella?", kataku dengan sedikit terpesona.
     Cewek secantik dia bagaimana bisa mendapat nomorku dan mengejarku. Haha, mungkin istilah mengejarku itu sedikit kepedean. Tapi itu yang kurasakan. Haha.
     Cewek itu tersenyum manis. Aku pun duduk dan mengobrol. Ternyata dia adalah temannya teman smp-ku, Arda. Hmm, okelah.
Aku mulai ada interest sama dia. Lagian, aku juga ingin move on dari perasaan sakit yang berbekas ini.
      Tak terasa. Malam itu terasa cepat. Kita pun pulang dan berpisah.
     Ya ampun, aku lupa mau baca sms Eska.
    From : Eska
    Ra, Indah sms aku, katanya mau minta nomormu, gimana? Dikasih?
     Anjir!. Ngapain lagi sih Indah?? Belum puas bikin sakit hati ha?!
    Aku langsung telepon Eska dan menyuruhnya untuk tidak memberikan nomorku. Namun, ternyata sudah terlambat. Indah sudah mendapat informasi mengenai nomorku yang baru yang baru aku ganti 2 hari yang lalu.
     Nomor asing tadi yang sms adalah Indah.
     From : 0856xxX
     Wira, maafin aku ya. :(
    Anjir.
    Aku tak membalas smsnya. Karena aku sudah tau dan dapat dipastikan bahwa sms itu pasti Indah.
    Hasshh.... Kenapa dia harus muncul lagi setelah aku bekerja keras untuk melupakannya. Ingin rasanya memafkannya tapi ada rasa hashh..... Kenapa dia memutuskan dengan semudah itu???. Anjir. Malam ini aku galau kembali.
     Tanpa basa basi. Aku langsung menelfon Indah.
    Ya, suara indah terisak isak. Menangis. Dia bilang, dia juga sakit akan itu semua. Sekali lagi, dia minta untuk balikan.
    Aku terdiam sejenak.  Aku akan memberi jawabannya besok. Kampret memang. Hatiku juga galau. Akhirnya malam itu juga, aku menelfon Eska dan aku mencurahkan semuanya serta meminta keputusannya untuk menerima atau tidak balikan itu.
    Eska adalah sahabat terbaik yang kupunya.
   "Itu kan perasaan kamu Ra, saranku jika kamu memang masih sayang sama dia mending kamu balikan aja.....", suara Eska dari telepon terlihat seperti menghentikan suaranya seperti menahan suara.
    Aku terdiam dan memikirkan kata kata Eska.
    "Namun...", suara Eska kembali muncul.
    "Jika ada orang lain yang lebih bisa buat kamu nyaman mengapa kamu gak beri kesempatan membuka hati pada orang itu, mungkin ...", suara Eska seperti tertahan.
    "Kamu bisa mencari pengganti Indah yang bisa membuatmu lebih nyaman, coba peka kan perasaanmu dulu Ra...itu saranku..", suara Eska sedikit terbata.
    Sungguh, Eska adalah tempat yang paling tepat. Aku mencoba untuk menuruti perkataan Eska.
    Aku harus merasakan perasaanku sekarang yang sebenarnya. Apakah Viella? Sebagai pengganti Indah?. Aku sudah mulai merasakan Interest dengannya. Tapi disisi lain, sejujurnya aku masih belum bisa melupakan Indah sepenuhnya.
    Malam ini aku tak bisa tidur. Ya, masa lalu haruslah berlalu dan tak diungkit kembali. Aku memilih Viella. Aku harus bisa melupakan Indah.
    Siang itu juga, aku bertemu indah dan mengatakan sejujur jujurnya perasaanku padanya bahwa aku akan berusaha melupakanmu. Aku sudah tak cinta lagi. Hubungan ini memang sudah saatnya berhenti.
    Indah menangis dihadapanku. Aku tak tega. Aku mengusap air matanya untuk yang terakhir kalinya.
    Masa depan. Viella menjemputku. Aku akan PDKT dengannya.
   Siang itu, setelah bicara khusus memperjelas hubunganku dan Indah di parkiran belakang. Aku menraktir Eska. Dia adalah peri cintaku.
     "Yeaa!!! Makasih ya Wira... Sering sering dongg nraktir kaya gini yaa..!!", suara ceria Eska dengan bola matanya yang lebar menatap mataku. Aku tersenyum dan mengacak acak rambutnya.
      "Oke deh... Kamu tau gak sih ka... Lo itu penyelamat gimana ya... Lo tuh tempat segala macam nasih hidup gue ngerti gak sih? Hahaha gue mau ucapin makasih ya...", kataku sambil tersenyum.
      Eska tersenyum.
      "Wira....", panggil Eska secara tiba tiba seperti ada hal serius.
   "Iya? Apa?", kataku.
        Tiba-tiba, Eska menangis dihadapanku. Aku pun terkejut dan bingung, Eska kenapa ?.
      "Lo kenapa Ka???!!!", kata gue sambil melotot khawatir.
    Eska masih menangis dengan muka terlipat sedih. Anjir, gue khawatir setengah mampus. Gue gak tau dia berlaga aneh secara tiba tiba.
       "Gue .... Gue ....maaf Ra... ", kata yang muncul dari mulut Eska semakin membuatku penasaran.
      "Lo ada apa ka?? Lo jangan buat gue khawatir gini dongg!!", kataku.
         "Maaf, gue gak cerita hal ini sebelum sebelumnya, gue besok akan operasi Ra...", kata Eska sambil masih menangis.
     Mata gue melotot sumpah.
      "Hah?! Operasi apa?! Lo sakit apa KA?!!! Kok lo gak cerita ke gue sih KA!!! Anjir..!", kata gue.
    Eska semakin menangis.
     "Gue mengidap tumor otak Ra..", kata Eska yang masih menagis.
    Ya ampun. Nafasku seakan berhenti. Tumor otak? Airmataku mulai keluar. Eska, bisa bisanya lo menyembunyikan ini semua.
     "Gue gak ingin buat lo terbebani Ra setelah tau penyakit gue.. Doain aja besok gue tetap bisa ada...", kata Eska.
     Aku hanya bisa menatap Eska dengan tatapan kosong.
     Mangkanya, tak jarang aku menemui Eska mimisan dari hidungnya.
    Aku mengusap air matanya.
    "Eska...bisa bisanya lo gak cerita, bisa bisanya lo nglupain temapt curhat ke gue... Tapi sudahlah... Gue gak marah, lo berhenti menangis ya ka....gue akan slalu ada buat lo", kata gue.
    Gue gak tau gimana arti dari perkataan Eska kepadaku.
    "Aku cinta kamu Ra, seenggaknya aku ingin permintaan terakhir ini sampai setelah operasi saja kamu maukan jadi pacarku?", kata Eska tajam.
    Aku hanya bisa menganga. Aku gak ngerti. Hatiku seperti tertusuk. Aku sudah menganggap Eska lebih dari sahabat bahkan saudara. Namun, demi kebahagiaan Eska. Aku tersenyum dan mengangguk.
   "Gue sayang sama lo ka, lo harus sembuh ya ka...", kataku.
    Pertemuan siang itu selesai. Aku mengantarkan Eska pulang. Eska memang meminta pada orang tuanya untuk menyamakan haknya sebagai anak sehat biasanya.
     Pulang.
     Aku masih gak paham atas ini semua. Eska selama ini mencintaiku. Eska yang slalu buat ada untukku. Eska, aku selalu nyaman di dekatnya. Eska... Kenapa kamu bikin aku sebingung ini. Eska, maaf aku gak tau akan perasaanmu slama ini. Kamu sungguh perhatian padaku.
     Sekarang. Aku adalah pacarnya Eska. Aku segera menggapai hand-phone ku dan menelfon Eska.
    "Halo?", suara Eska.
    Aku terdiam sejenak.
     "Lagi apa cantik?", kataku dengan suara lembut.
          Ya, aku akan memainkan peran sebagai pacar Eska untuk membuatnya bahagia. Sungguh tak bisa di sangkal. Aku sudah menganggapnya sebagai lebih dari sahabat. Semua ini ku lakukan demi kamu Eska. Semoga sembuh.
     Eska terdengar sangat bahagia.

     Ya, aku teringat Viella dan Indah. Sungguh, ini sangat rumit. Aku yakin, Indah pasti sedang menangisiku. Serta, aku tak bisa melanjutkan perasaanku pada Viella. Aku harus menghentikan perasaan itu. Aku akan mencoba untuk mencintai Eska setulusnya sebagai pacar bukan sahabat. Jujur, perasaan itu sungguh berlawanan. I love you, my best friend.


END

0 komentar:

Post a Comment

 
TOP