Judul Cerpen : Pelangi dibalik Sore
By : Yama Yam
By : Yama Yam
Pelangi di
balik sore
Senja tiba,
seperti biasa aku bersama buku buku kelamku telah duduk bersama di teras rumah.
Pepohonan yang asri sangat membuat hatiku tentram melihat hijau bersih
warnanya. Sejarah... Itulah judul depan buku ku yang aku bawa ke depan sini
dari kamar tadi. Mengapa aku gak bisa jadi anak cerdas? Tanpa belajar bisa
pintar? Mengapa aku tak bisa menjadi karakter sanguinis yang slalu ceria?
Koleris yang berani dan penuh ide? Serta melankolis yang terhormat. Kaum
Plegmathis. Aku adalah salah satu penganut kaum itu. Ya, diriku ini sangat
sulit untuk memilki ide ide jenius. Kenapaa? Mungkin aku terlalu bodoh. Satu
satunya jalan untuk menutupi kebodohanku yang terpendam adalah belajar.
Ayah menuntutku
untuk tidak memajang namanya di lingkup rasa rendah dan malu jika aku menjadi
anak yang bodoh. Sungguh ironis, jika aku menginginkan itu. Gila... Aku benar
benar gila... Otakku tak secakap otak otak teman temanku di sekolahan favorit
itu. Aku terbelakang. Bahkan, Aku pun tak memiliki akreditas keturunan manusia
cerdas atau jenius. Ayah dan Ibuku tak lulus SD. Maka dari itulah, Ayahku
bersumpah darah untuk menyekolahkanku setinggi tingginya. Walaupun sungguh
konyol jika aku sampai mengenyam bangku kuliahan. Ayah hanyalah kuli batu bata.
Sungguh sebenarnya aku tak memiliki keyakinan untuk menjadi manusia cerdas
penuh intrik. Hass.... Sudahlah, paling tidak aku ada usaha untuk menuju ke
jenjang itu.
Sejarah, aku
mempelajari begitu banyak kerajaan. Budha hindu sungguh melingkar lingkar
seperti ular di otak kanan maupun kiriku. Malas memang sebenernya. Belajar
membaca belajar membaca namun aku tak pintar pintar. Hanya satu kalimat Ayah
yang melekat di otakku. Kalau aku tidak pintar, kenapa aku bisa jadi siswa di
SMA favorit itu. Hmm... Apa iya aku pintar? Tidak, aku tak merasakan hal itu
samasekali. Sangat tidak. Beberapa bulan terakhir dimana aku mendaftar sekolah
itu mungkin hanya keagungan dan welas kasih Tuhan kepadaku.
"Nduuk...
Kamu nggak makan dulu to naak...", suara khas menyambar tubuhku membuatku
gemetar mendengar suara perempuan tua itu. Ibuku. Beliau adalah perempuan
termulia terbaik tercantik dan sangat aku sayangi sedunia.
Aku segera
menyantap masakan ibuku. Walaupun rasa yang sebenarnya adalah terlalu asin.
Namun di lidah tetaplah rasa yang pas mantap dan lezat. Seusai makan, aku pamit
untuk menuju ke ladang belakang.
Aku melupakan
buku buku itu. Aku membawa secarik kertas dan sebuah pena. Aku duduk termenung
di gubuk ladang. Aku menerawang awan. Langit langi awan yang biru mempesona
membuat beban beban di pundakku terasa melayang layang. Beberapa hari belakang
aku membaca sebuah buku karya Andrea Hirata berjudul Edensor. Paris. Itulah
kata yang melekat di novel sederhana itu. Karena aku juga sangat memimpikan hal
mustahil itu. Aku ingin mengunjungi Paris. Ironis.
Aku tersenyum
pada awan. Seakan akan ada seseorang yang juga senyum kepadaku di awan sana.
Dia mendengar isi hatiku dia mengerti isi hatiku. Dia pendengar yang bisu.
Itulah kata yang pas untuknya. Tapi aku sangat memedulikannya. 2 tahun tersisa
dalam mengejar mimpiku untuk mendapatkan beasiswa gratis kuliah bidikmisi itu.
Konyol memang. Aku belum memiliki apa apa untuk menembus mimpi dalam 2 tahun
sederhana itu. Aku tergetar. Aku menulis di secarik kertas tadi.
PARIS.....
Ya, paris
itulah satu satunya hal penyemangat dalam menuju beasiswa kuliah gratis itu.
Tanpa kuliah tak ada kesempatan lain untuk menuju paris. Ini seperti lelucon
saja. Aku tertawa.
Memandang
langit. Tak kusangka. Di balik awan itu mengalir suatu keyakinan kuat. Pelangi
itu meyakinkanku. Pelangi adalah suatu keajaiban alam. Aku sangat menyukainya.
Jarang. Hampir tak pernah dalam usiaku melihat pelangi dari bilik gubuk ini.
Pelangi itu
adalah saksi janjiku untuk tiba di Paris.
END
0 komentar:
Post a Comment