Loading...
Wednesday, 2 April 2014

Pelangi dibalik Sore ( CERPEN )

Judul Cerpen : Pelangi dibalik Sore
By                 : Yama Yam

                                 Pelangi di balik sore
      Senja tiba, seperti biasa aku bersama buku buku kelamku telah duduk bersama di teras rumah. Pepohonan yang asri sangat membuat hatiku tentram melihat hijau bersih warnanya. Sejarah... Itulah judul depan buku ku yang aku bawa ke depan sini dari kamar tadi. Mengapa aku gak bisa jadi anak cerdas? Tanpa belajar bisa pintar? Mengapa aku tak bisa menjadi karakter sanguinis yang slalu ceria? Koleris yang berani dan penuh ide? Serta melankolis yang terhormat. Kaum Plegmathis. Aku adalah salah satu penganut kaum itu. Ya, diriku ini sangat sulit untuk memilki ide ide jenius. Kenapaa? Mungkin aku terlalu bodoh. Satu satunya jalan untuk menutupi kebodohanku yang terpendam adalah belajar.
     Ayah menuntutku untuk tidak memajang namanya di lingkup rasa rendah dan malu jika aku menjadi anak yang bodoh. Sungguh ironis, jika aku menginginkan itu. Gila... Aku benar benar gila... Otakku tak secakap otak otak teman temanku di sekolahan favorit itu. Aku terbelakang. Bahkan, Aku pun tak memiliki akreditas keturunan manusia cerdas atau jenius. Ayah dan Ibuku tak lulus SD. Maka dari itulah, Ayahku bersumpah darah untuk menyekolahkanku setinggi tingginya. Walaupun sungguh konyol jika aku sampai mengenyam bangku kuliahan. Ayah hanyalah kuli batu bata. Sungguh sebenarnya aku tak memiliki keyakinan untuk menjadi manusia cerdas penuh intrik. Hass.... Sudahlah, paling tidak aku ada usaha untuk menuju ke jenjang itu.
      Sejarah, aku mempelajari begitu banyak kerajaan. Budha hindu sungguh melingkar lingkar seperti ular di otak kanan maupun kiriku. Malas memang sebenernya. Belajar membaca belajar membaca namun aku tak pintar pintar. Hanya satu kalimat Ayah yang melekat di otakku. Kalau aku tidak pintar, kenapa aku bisa jadi siswa di SMA favorit itu. Hmm... Apa iya aku pintar? Tidak, aku tak merasakan hal itu samasekali. Sangat tidak. Beberapa bulan terakhir dimana aku mendaftar sekolah itu mungkin hanya keagungan dan welas kasih Tuhan kepadaku.
      "Nduuk... Kamu nggak makan dulu to naak...", suara khas menyambar tubuhku membuatku gemetar mendengar suara perempuan tua itu. Ibuku. Beliau adalah perempuan termulia terbaik tercantik dan sangat aku sayangi sedunia.
      Aku segera menyantap masakan ibuku. Walaupun rasa yang sebenarnya adalah terlalu asin. Namun di lidah tetaplah rasa yang pas mantap dan lezat. Seusai makan, aku pamit untuk menuju ke ladang belakang.
      Aku melupakan buku buku itu. Aku membawa secarik kertas dan sebuah pena. Aku duduk termenung di gubuk ladang. Aku menerawang awan. Langit langi awan yang biru mempesona membuat beban beban di pundakku terasa melayang layang. Beberapa hari belakang aku membaca sebuah buku karya Andrea Hirata berjudul Edensor. Paris. Itulah kata yang melekat di novel sederhana itu. Karena aku juga sangat memimpikan hal mustahil itu. Aku ingin mengunjungi Paris. Ironis.
      Aku tersenyum pada awan. Seakan akan ada seseorang yang juga senyum kepadaku di awan sana. Dia mendengar isi hatiku dia mengerti isi hatiku. Dia pendengar yang bisu. Itulah kata yang pas untuknya. Tapi aku sangat memedulikannya. 2 tahun tersisa dalam mengejar mimpiku untuk mendapatkan beasiswa gratis kuliah bidikmisi itu. Konyol memang. Aku belum memiliki apa apa untuk menembus mimpi dalam 2 tahun sederhana itu. Aku tergetar. Aku menulis di secarik kertas tadi.

PARIS.....

       Ya, paris itulah satu satunya hal penyemangat dalam menuju beasiswa kuliah gratis itu. Tanpa kuliah tak ada kesempatan lain untuk menuju paris. Ini seperti lelucon saja. Aku tertawa.
        Memandang langit. Tak kusangka. Di balik awan itu mengalir suatu keyakinan kuat. Pelangi itu meyakinkanku. Pelangi adalah suatu keajaiban alam. Aku sangat menyukainya. Jarang. Hampir tak pernah dalam usiaku melihat pelangi dari bilik gubuk ini.

        Pelangi itu adalah saksi janjiku untuk tiba di Paris.

END

0 komentar:

Post a Comment

 
TOP